Pada saat ini terjadi pembaruan
secara besar-besaran pada seni ukir dan warna pada wayang golek. Kalau saya
amati memang sudah banyak bermunculan gaya-gaya baru dalam seni ukir maupun
pewarnaan pada wayang golek seperti kreasi pola raut (dalam tulisan ini, istilah raut digunakan
untuk menunjuk segi rupa golek secara umum, seperti pola garis alis, pola hidung, pola mata, dsb.) wajah wayang
golek yang diraut atau dibentuk seperti wajah manusia, namun hal ini bukan
sesuatu yang baru, jauh sebelum itu Alm Asep Sunandar di era tahun 90an
sampai era 2000an beliau sudah mengaplikasikannya sedemikan rupa walau memang
banyak komentar dari beberapa seniman karena keluar dari pakem (aturan, tatanan, ugeran, pola.) pola
wayang golek purwa, namun hal ini tidak membuatnya berhenti begitu saja, bahkan
tidak hanya polo rautnya yang digubah namun dalam pewarnaan dan pakaiannya pun
mulai diperbaharui dan pada ahirnya hingga sampai saat ini tetap di aplikasikan
pada wayang golek.
Menurut pendapat saya pembaharuan
ini lebih banyak dikembangkan oleh seniman-seniman yang ada di lingkungan Giri
Harja, karena setelah saya amati wayang golek gaya Giri Harja lebih diminati
oleh berbagai kalangan, ya, karena menurut saya unsure visualisasi dan estetika
nya lebih nyaman di pandang dan wayangnyapun lebih nyaman dimainkan. Selain pembahasan
di atas tentang rautan pada wayang golek sekarang marak terjadi pembaruan pada
tehnik pewarnaan pada wayang golek, misalnya tehnik pewarnaan wajah dan badan
pada wayang golek buta maupun golek lainnya salah satunya adalah tehnik usek yang mana tehnik mengoles kuasnya
dengan cara di usek yang itu menimbulkan efek kulit yang bersisik, memang
tehnik ini sebelum marak di aplikasikan pada wayang golek sudah terlebih dahulu
di aplikasikan pada wayang kulit salah satu tokoh penggagasnya adalah Alm Mbah Sigit
Sukasman (pelopor wayang kulit ukur)
seperti yang dituturkan oleh Rommy Hendrawan, dan siapa sangka bahwa
tehnik usek yang di aplikasikan pada wayang kulit ini dengan cara mencampurkan
cat dengan shampoo yang mengeluarkan busa yang cukup banyak akhirnya
menimbulkan efek yang tak disangka sebelumnya. Dan hal itu tidak merambah pada
wayang kulit saja sekarang para seniman pengrajin wayang golek pun sudah
mencoba hal tersebut hanya beda bahan saja, sebelumnya memang ada tehnik
pewarnaan kulit yang unik seperti contoh karya pengrajin Hendra dari Jelekong yang
mana tehnik mewarnai pada golek buta dengan tehnik loreng berlapis-lapis hingga
menimbulkan efek yang berbeda.
Warna pada mahkota wayang golekpun
kini sudah lebih bervariativ contohnya, dahulu pola pewarnaan pada mahkota
seperti luk paku, Utah-utah begitu-begitu saja, namun semenjak hadirnya
kreasi pewarnaan pada mahkota oleh Bhatara Sena (putra dari almarhum Asep Sunandar) Aan dan Ujang
Sarip (pengrajin wayang golek), mencoba mengaplikasikan
tehnik sungging pada mahkota wayang kulit yang dimana salah satu contohnya luk
paku tidak diwarnai melingkar lagi namun diaplikasikannya tehnik sungging pada
wayang kulit dan alhasil tehnik ini cukup baik dari segi visualisasi dan
ahirnya tehnik ini semakin menyebar dan banyak digunakan oleh penghobbi wayang
maupun pengrajin wayang, dengan tehnik sekar
ketik yang berbeda pula. Selain tenhik mewarnai pada luk paku, tehnik
mewarnai pada garuda mungkur pun
mencontoh dari tehnik sunggingan kreasi pada wayang kulit yang dimana diberi
efek-efek gradasi dan bulu-bulu halus yang menimbulkan efek yang berbeda pula. Kemudian
pemberian motif-motif batik pada mahkota topongan wayang golek, dan dari daerah
Giri Harja juga bermunculan kreasi-kreasi baru tapi tidak meninggalkan ke
khasannya gaya Giri Harja an. R.L. Mellema seorang penasihat linguistik
pada The Royal Tropical Institute, Amsterdam, menulis sebuah buku yang berjudul
Wayang Puppets: Carving, Colouring and
Symbolism (1954). Dalam buku tersebut dia menguraikan teknik tatah sungging
wayang kulit. Yang menarik, dia pun membahas cukup lengkap tentang warna itu
sendiri dan perlambangan warna yang ada pada wayang kulit.
Semenjak berkembangnya media sosial
kini masyarakat lebih mudah mengakses data-data, melihat perkembangan
pewayangan dari segi apapun, dalam hal ini sangat memungkinkah terjadinya
kreasi besar-besaran walaupun sifatnya bertahap, namun anak muda saat ini
mungkin lebih membutuhkan pembaruan dalam kemasan seni rupa pada wayang golek
walaupun cukup menguras dana, hal ini tiada lain adalah demi kepuasan batin
akan hasrat seni yang dimiliki atau sekedar ikut-ikutan trend saja. Namun tidak
mengapa, karena ini menjadi salah satu tolak ukur bahwa leluhur kita lebih
bagus karyanya hingga bisa bertahan sampai saat ini dan terus dikembangkan,
bila dilihat dari arah kecenderungan penggunaan cirri pakem raut dalam wayang
golek bisa dilihat oleh kita sendiri berbagai gaya telah masuk untuk
berkolaborasi dan saling menerima masukan dan pembaruan.